Kamis, 21 Maret 2013

Aku tanpa tangisanku

Pada fajar dan senjaku, yang menjelang malam
Aku kian dibodohi pada bias perih yang merintih
Merengek sakit pada cicak beredecak di tengah malam 
Tiada memecahkan sepi yang  menopang jiwa rintih

Menangis itu bukan lagi bagianku
Sejak melontarkan sumpah untuk tidak mengeluarkan air mata
Namun terkadang aku menginginkan dia datang
Biar sakit ini sedikit ditepiskannya dari tubuhku 

Sedih, sesal, rapuh, dan kecewa menyatu dalam hatiku, 
Kompak mengiris-ngiris jiwa, namun tak setitik air itu pun menetes 
Ketidakberdayaan ini buatku jadi lunglai, berkali-kali aku terdera tanpa darah 
Tapi sang tangis makin menjauh seolah dendam kepadaku

Apa aku sudah terbiasa tanpa tangisku? 
Aku iri melihat tangis pada mereka, aku ingin memilikinya 

Bila kau menemukan tangis di sana, berikan padaku beberapa titik tangis itu 
Meskipun hanya beberapa titik, biar aku merasakan 
Jika kau temukan dan tak mau berbagi 
Paling tidak kau ceritakan saja, biar aku hayati bagaimana rasanya tangis itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar