Senin, 20 Oktober 2014

Rindu Pada Nona Tetra

LOS - Teater Nona Tetra, 2011
Usai membaca naskah LOS karya Putu Wijaya saya menjadi ingat kembali dengan pementasan 3 tahun lalu yang diproduksi bersama teman-teman Teater Nona Tetra, yang biasa dipanggil Teater NonTe. Yang kemudian nyangkut di kepala saya adalah pementasan dengan semangat yang membara. Menghasilkan sebuah karya yang tidak sia-sia dari segala pengorbanan dan perjuangan.

Proses yang rumit, dengan berbagai persoalan namun teman-teman bisa mengatasinya dengan baik. Memulai pengenalan naskah dengan jangka waktu yang lama, proses pemblockingan pun demikian. Menimbang segala segi tehnik pemanggungan hingga  pencarian dana untuk produksi.

Situa, Gembrot, Seseorang, Kawan, Pemimpin, Salah Seorang, Petugas, Dokter, Wartawan, Tamu, Nenek bergumam demikian dalam hatinya, "Bandot masih hidup, dia belum mati." berulang kali memerdekakan gumamannya menjadi suara yang lantang.

Aku pun menjadi ingat kembali, karna Bandot belum mati kami pun bergotong royong membuat si Bandot menjadi hidup untuk bergabung mengikuti proses. Enggrang-enggrang yang menjadi kaki kami untuk melangkah. Yang menjadi mata kami untuk melihat, meneliti sejauh mana kaki kami melangkah. Dan menjadi saksi atas perjalanan proses kami.

Teman-teman tak pernah mengeluh dengan proses ini. Tak pernah sedikitpun menyangkutpautkan dengan tugas-tugas Intrakulikulernya. Tak merasa dirugikan meski banyak waktu yang terbuang untuk proses ini. Yang aku tahu teman-teman bersungguh-sungguh dengan keputusannya untuk mengikuti proses tersebut.

Namun sayang, kini semua menjadi kenangan, semangat tengah memudar bersama kegiatan barunya. Kami semua dipisahkan dengan jarak, aku pun tak bisa marah. Aku hanya bisa berdo'a, menyampaikan kerinduan bersama sunyinya malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar