Aku punya cerita, aku ingin bercerita.... jatuh cinta itu biasa, dan aku tidak bisa memilih, namun aku harus tahu diri. Ini adalah ceritaku, rasa pribadiku dengan perasaan terbatas yang tidak bisa lebih.
Hidup emang bukan tentang cinta melulu, tapi aku, kamu, dia, dan kalian tidak bisa mengingkari jika setiap manusia membutuhkan cinta dalam hidupnya. Bukan hanya cinta dari seorang kekasih melainkan dari teman, sahabat, keluarga, Nabi Muhammad SAW, dan Allah SWT. This is my diary, my story life, but a dream like this sometime abuse my feel, even hell. Yeah I like it.
Jakarta, Pertengahan Mei 2013 lalu, itu pertama kali kita bertemu tanpa perasaan apapun dengan rasa malu dalam diriku.
Aku ingat pertama dan terakhir aku bertemu dengan pria itu, yang usianya dua tahun lebih tua dariku. Lahir di akhir tahun, dan aku di awal tahun. Tapi sekarang bukan awal atau pun akhir tahun, melainkan menjelang akhir dan awal tahun. Dan terakhir aku bertemu dengan pria itu Juni 2013 lalu. Itu pertemuan untuk kesekian kalinya dengan adanya keperluan dan maksud yang lain.
Lalu kenapa? Kami tidak ditemukan kembali setelah bulan itu. Aku pun tak sempat berkunjung ke rumahmu, dan setelah bulan itu kami tidak sedikit pun berkomunikasi untuk tegur sapa atau menanyakan keadaan.
Lalu kenapa? Aku banyak menyimpan rindu, sedangkan dirimu aku tidak tahu merasakan hal yang sama atau tidak. Jatuh cinta? Yaa... bisa diumpamakan seperti itu. Jatuh cinta itu biasa saja, meski menurut sebagian orang rasanya menyiksa. Tersiksa karena tidak bisa mengatakan, tidak pernah ada kesempatan untuk memiliki, lalu kehilangan. Tapi aku tidak merasa kehilangan, aku selalu merasa dia didekatku.
Lalu kenapa? Kami tidak diperbolehkan untuk saling merasakan berbagi dan saling memiliki. Apa aku cukup tidak tahu diri bermimpi seperti itu? Ya mimpi itu cuma gambaran alam bawah sadar setiap manusia, tidak punya arti, melainkan refleksi. Tapi aku percaya bahwa mimpi itu sebuah kenyataan yang belum direalisasikan. Setidaknya mimpi indah yang ada dianganku itu masih bisa aku ingat, dan aku masih merasa dia laki-laki teraneh yang pernah aku temui, aku beruntung sempat berjumpa sekaligus mengenal tentang dirinya. Dan dia memang aneh, namun unik.
Lalu kenapa? Aku tidak pernah tahu kebenaran dari apa yang aku rasakan. Namun kenyataan ini kejadian yang sudah lama tidak aku rasakan. Dan aku tidak mau merusak apa yang tidak boleh aku rusak. Cinta memang tidak bisa memilih. Dan aku juga tahu seperti apa kenyataannya, sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisa direvisi.
Lalu kenapa? Aku yang harus merasakan rasa itu terlebih dahulu. Apa aku terlalu cepat untuk menyatakan yang aku rasakan adalah kebenaran? Tapi menyatakan demikian ini tidak semudah yang kalian bayangkan, dan juga tidak semudah aku berjabat tangan pertama kali dengan laki-laki itu.
Lalu kenapa? Aku yang lebih perasa dari pada dirimu. Namun tubuh ini terlalu rentan menunjukkan berjuta-juta gerakan yang masih terselubung dalam kesembunyianl. Aku tetap disampingmu meskipun dirimu tidak menjadi perasa yang peka. Sebesar itukah aku meletakkan harapan pada ketidak mungkinan? Setidak tahu diri itukah aku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar