Kini
yang aku tahu hanya kesunyian dalam sunyi yang berdering pada sepi. Dan
aku bercengkrama pada sembilu, tertegun pada kalbu, berceloteh pada
waktu. Ya waktu! Jika saja sang waktu bisa kita hentikan, atau kita potong,
bahkan kita hilangkan yang enggan kita lalui, seperti mengedit film.
Aku akan potong bagian kala bertemu denganmu dan
jatuh cinta padamu. Namun jika kau bertanya 'mengapa kau ingin hilangkan bagian itu?' aku akan menjawab 'karna bagian itu yang paling
menyakitkan ketika diingat' Kau pun terdiam dan memandang sudut waktu, kembali bercengkrama pada sembilu, dan bertanya 'Lalu bagian mana lagi yang enggan kau lalui dan segera kau pangkas?' aku segera menjawab dengan tegas 'Bagian dimana kala kita harus berpisah. Bagian itu wajib dipangkas! Sama dengan kala kita bertemu, itu sama wajibnya untuk dipangkas!'
Bukan sesal yang kurasa, dan bukan itu juga penyebab semua ingin ku pangkas. Namun bagian itu tidak indah untuk diingat apalagi untuk diperlihatkan. Ada orang yang berpendapat 'Manisnya Pertemuan' dan 'Manisnya Perpisahan' Apakah yang tidak indah masih bisa disebut manis? Menurutku tidak ada yang manis, malah pahit untuk diingat! Karna otakku hanya bisa merekam yang manis dan indah saja, selain itu untuk apa direkam? Lebih baik ku simpan dengan rapih, jika nanti dibutuhkan atau diperlukan ya buka saja kembali.
"Aku tidak membenci bagian-bagian tersebut, tapi justru aku mencintai pertemuan dan perpisahan lebih dari mencintai dirimu kala kita bersama."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar