Jumat, 31 Oktober 2014

Mungkin Gila

Ah gila!
Kasak kusuk sudah sampai telinga
Kalian bukannya bangga malah memandang sebelah mata
Kalian yang tua
Bukannya membantu yang muda
Malah iri yang ada

Ah gila!
Kami memang baru lahir di dunia
Baru segini sudah dianggap tiada
Kami harus apa?
Jika melawan menjadi durhaka

Ah gila!
Memang gila
Tidak mau diusik tapi mengusik

Ah gila!
Sampai kapan kau terus lempar batu?
Sampai kapan kau menyembunyikan bau bangkai?
Sampai kapan kau terus menghujat semua orang tak berdosa?
Gila....
Sungguh gila...

Ah gila!
Mengapa iri terus ada dalam benakmu?
Menolehlah,
lihat di sebrang jalan ada damai yang merindukan mu
Kau tak boleh kalah,
kalah melawan rasa iri

Ah gila!
Umur mu sudah menghitung hari
Lebih baik cepat bertaubat,
kemudian berobat
Sungguh gila...

Senin, 20 Oktober 2014

Rindu Pada Nona Tetra

LOS - Teater Nona Tetra, 2011
Usai membaca naskah LOS karya Putu Wijaya saya menjadi ingat kembali dengan pementasan 3 tahun lalu yang diproduksi bersama teman-teman Teater Nona Tetra, yang biasa dipanggil Teater NonTe. Yang kemudian nyangkut di kepala saya adalah pementasan dengan semangat yang membara. Menghasilkan sebuah karya yang tidak sia-sia dari segala pengorbanan dan perjuangan.

Proses yang rumit, dengan berbagai persoalan namun teman-teman bisa mengatasinya dengan baik. Memulai pengenalan naskah dengan jangka waktu yang lama, proses pemblockingan pun demikian. Menimbang segala segi tehnik pemanggungan hingga  pencarian dana untuk produksi.

Situa, Gembrot, Seseorang, Kawan, Pemimpin, Salah Seorang, Petugas, Dokter, Wartawan, Tamu, Nenek bergumam demikian dalam hatinya, "Bandot masih hidup, dia belum mati." berulang kali memerdekakan gumamannya menjadi suara yang lantang.

Aku pun menjadi ingat kembali, karna Bandot belum mati kami pun bergotong royong membuat si Bandot menjadi hidup untuk bergabung mengikuti proses. Enggrang-enggrang yang menjadi kaki kami untuk melangkah. Yang menjadi mata kami untuk melihat, meneliti sejauh mana kaki kami melangkah. Dan menjadi saksi atas perjalanan proses kami.

Teman-teman tak pernah mengeluh dengan proses ini. Tak pernah sedikitpun menyangkutpautkan dengan tugas-tugas Intrakulikulernya. Tak merasa dirugikan meski banyak waktu yang terbuang untuk proses ini. Yang aku tahu teman-teman bersungguh-sungguh dengan keputusannya untuk mengikuti proses tersebut.

Namun sayang, kini semua menjadi kenangan, semangat tengah memudar bersama kegiatan barunya. Kami semua dipisahkan dengan jarak, aku pun tak bisa marah. Aku hanya bisa berdo'a, menyampaikan kerinduan bersama sunyinya malam.

Minggu, 13 Juli 2014

Hujan, hujan, hujan

Ketika hujan turun begitu deras di atas kepalaku
mereka menyerang seperti mematikan
Aku ingin berlari mendapatkan keteduhan di sebrang jalan 
di bawah kolong langit jembatan
Ingin merengkuh tubuh semampai itu
Hmm tidak,
dia tidak semampai
namun aku ingin dalam pelukannya dan melumat bibir indah itu
hingga hilang segala geliat gigil dan gemeletuknya rindu
Menemukan kenyamanan yang luar biasa
Mencumbu pelangi di matanya yang menenangkan jiwa
Keindahan melihat dirinya adalah tetes-tetes air hujan yang membasahi rambut ikalnya
Hujan, hujan, hujan ejakan satu kalimat saja pada batara
Hujan, hujan, hujan petakan satu kalimat lingkar saja dalam aksara
Hujan, hujan, hujan rinaikan satu lagu saja tentang asmara
Meskipun akhirnya belum tentu bahagia namun setidaknya kita pernah tertawa bersama
berbagi cerita suka dan duka
Hujan, hujan, hujan suatu saat nanti ini semua hanya cerita dalam kenangan

Jumat, 20 Juni 2014

Ada yang salah?

Aku geram melihat diriku yang terpuruk dalam keramaian kota
Menatap mentari tanpa adanya sedikit gairah
Hembusan angin terlihat jahat terasa menusuk tulangku
Bahkan aku tak tahu apa penyebabnya, dimana kelemahanku
Mungkin sesuatu yang menyeramkan sedang menyerang dan menggerogoti sel tubuhku
Sampai sebegininya aku larut dalam keterpurukan
Senjapun tak mampu menggairahkan semangatku
Bahkan untuk bersapa pada senja saja enggan, apalagi berbincang
Dalam keadaan seperti inilah yang aku inginkan hanya kesendirian dan ketenangan
Menghindar dari keramaian yang mengganggu isi kepala dan hati

Ada yang salah dari diriku?

Senin, 02 Juni 2014

D

"Hha"
"Hehe"

Seolah dia sempurna, 
Senyumnya menggelora, tawanya getarkan jiwa
Bukan hanya saja kata namun kenyataan yang ada
Oh dia... aku suka

Senin, 05 Mei 2014

Mika

Mika,
Kita berkenalan pada keramaian
Saling sapa dalam tatapan
Berbincang dengan senyuman
Setiap pertemuan itu ada perpisahan
Perpisahan yang akan mengembalikan pertemuan
Pertemuan untuk kita

Mika,
Dirimu selalu mengganggu hidupku
Diriku senang selalu diganggu
Diganggu senyum manismu
Kau telah menggenggam rasa
Rasa ku pada hatimu
Bergejolak bagai ombak
Mika,
Mungkin ini terlalu cepat
Atau bahkan terlalu lambat
Namun ini sudah tiga tahun dalam empat pekan
Kau mengetahui itu?
Atau kau mengabaikan?

Mika,
Aku selalu menanti
Menanti pada peron yang sama
Menanti kau menghampiriku
Untuk memperbincangkan hal yang sama

Mika,
Kau penyebab senyumku
Kau juga yang membuatku resah
Rinduku ini untukmu
Rindumu untuk siapa, mika?
Cintaku ini untukmu
Cintamu untuk siapa, mika?
Sayangku ini untukmu
Sayangmu untuk siapa, mika?

Mika,
Apa maksud tatap matamu?
Apa maksud genggam tanganmu?
Seolah tak mau kehilanganku?
Apa maksud hadirmu dalam mimpiku?
Apa maksud kehadiranmu dalam hidupku?
Apa maksud semua itu, mika?
Mika,
Kau tak bisa menjawab?
Kau tak bisa menjelaskan semua?
Aku butuh kau berbicara, mika

Mika,
Akankah semesta berpihak padaku?
Apakah semesta akan menjawab mimpiku?
Tentangmu, mika

Sabtu, 03 Mei 2014

Ku rasa pendam, Mika?

Memendam, dan seolah mengabaikan yang aku rasa pada pertemuan pertama. Aku kira itu hanya sekedar suka dan kita berteman. Entah aku sendiri pun bingung kenapa ini terjadi dalam waktu panjang, dan dengan kencan itu yang hanya peristiwa sekejap.

Aku berharap bukan karena peristiwa tersebut keresahan yang selalu muncul. Namun nyatanya dirimu lah yang selalu aku resahkan. Kenapa aku meresahkan mu? Apakah kamu meresahkan sama halnya dengan diriku? Aku harap ada sedikit aku disana, meskipun hanya setitik aku, aku bersyukur kamu masih meresahkanku ditengah kesibukanmu.

Kamu tahu? Aku terkadang menangisi dirimu karena resah itu terlalu kuat mengalahkan diriku. Kamu tahu? Aku selalu menanti pada peron yang sama untuk berjumpa denganmu pada kesempatan yang berbeda. Kamu tahu? Aku berharap kita sedang menatap bintang yang sama pada malam yang gemerlap. Kamu tahu? Aku rela menunggu hanya demi menemukan senyum manismu. Kamu tahu? Aku mencoba menepis semua yang aku rasakan.

Apa ini segera terjawab mimpi-mimpi tentang dirimu di hari yang lalu? Maaf, aku hanya bisa mendekapmu dalam anganku. Maaf, aku telah mengurungmu dalam egoku. Maaf, aku telah menguburmu dalam dalam selama bertahun-tahun. Maaf, aku hanya bisa menyelipkan namamu dalam doaku. Maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan. Karna dirimu kepunyannya, yang tidak ku ketahui kebenarannya. Maaf, aku hanya bisa menerka.

Beribu maaf yang aku ucapkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang sudah berbohong pada diri. Aku tak punya daya, yang kupunya hanya rasa. Ku katakan maaf sekali lagi, aku hanya bisa merasa dan memendam.

"Mika, ku nanti perjumpaan dengan dirimu di kota romantis menurutku. Jogja."