Selasa, 24 September 2013

Akrack....!!!!!

Sang malam, kini dirimu sedang marah, hingga kau tampakan kemerahanmu. Dirimu sangat naif untuk menampaki bulan benderang yang terbiasa memelukku dalam tidur lelapku. Aku cukup tahu diri mencintai malam dalam kesunyian. Biar ku nikmati sakitnya rindu bersama merahmu, malam. Tangis pun berdera menemani malamku hingga pagi menjelang. Ketika itu aku sangat pandai megelabui malam hingga tenggelam sang rembulan. Lucu... aku sangat pandai menyimpan semuanya sendiri, menutup rapat hingga tiada yang tahu, menampaki wajah sumringah di pagi hari. Begitukah yang ku lakukan? Aku lelah dalam lingkaran kebohongan, aku muak pada kata yang diucapkan. Aku... aku.... apalah aku bagimu, MALAM?

Sang malam, kalau saja aku bisa berkata untuk mengungkap semua, apa semua akan terlepas beban dalam diri atau malah jadi malapetaka untukku sendiri? Aku rindu... sangat rindu dengan kebebasan yang tiada mengikat hal apapun, sangat rindu dengan kebebasan yang penuh tawa. Aku.. aku... sangat rindu padamu, MALAM?

Kenapa harus diam yang sangat ku cintai. Kini setiap masalah yang datang, tak ingin ku ceritakan pada siapapun. Dalam hati kecilku berkata "biar saja Allah yang mengetahui segalanya" meski kenyataannya hatiku berkaca, aku memilih berlari menuju kesunyian, dan menangis sepuas hatiku, meringkuk dalam kalbu. Diam termenung ku mengadu pada yang Maha Kuasa. Saat itulah lagi-lagi aku berjanji untuk tidak menangis, ya entah nanti akan diingkari atau tidak. Tapi itu janjiku.... janjiku padamu, MALAM?

Aku sering bersandiwara, terlihat bahagia nyatanya aku mengalihkan air mata. Semua membuat aku terasa memiliki beban dan muak pada kenyataan. Namun aku tidak bisa menghindar, inilah nyatanya. Saat aku lelah, bosan , saat itulah aku menginginkan air mataku keluar namun ku tahan. Dan saat ku geram, saat itu pula aku menginginkan tangis jeritku datang. Ya... aku sering menunda tangisan itu untuk tidak tercipta dalam hariku. Untuk tidak menangis... tidak menangis untukmu, MALAM?

Hingga menghambat terbukanya mata hati, hingga menumpuk, hingga hatiku makin berkaca, hingga kaca itu terpecahkan oleh jerit. Aaaaakrraaaaacccckkkk..... aku geram pada semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar