Jumat, 05 Juli 2013

Menunggu untuk ditemukan #Chapter2

Minggu pagi ku telusuri lorong jalan menuju salah satu stasiun kereta dibilangan selatan Jakarta. Dengan kereta ekonomi melewati 3 stasiun sampai pada tujuan. Kita berjumpa lagi pada tujuan yang sama. Hari ini berlalu  begitu singkat dihiasi ramainya jalan dan teriknya mentari. Berpisah pada halte Proklamasi. Sampai jumpa di hari kamis. Berpisah. Kata tersebut selalu muncul hingga membuatku menjadi jemu dan memasang muka masam, dicampur rasa lelah karna mata belum terpejam.

“Senja cepatlah berlalu hadirkan hari itu, warnai hari seperti warna pelangi. Menunggu.”

Setelah hari itu rasa semakin menjadi. Entah... aku juga bingung kenapa semua serba terlanjur. Karna satu hal melebur, meluber dan melebar kemana-mana. Selalu menanti lampu led menyala dan berisi pesan nan absurd dari dirimu. Lagi-lagi harus menunggu hari itu tiba untuk bertemu dengan tujuan yang sama, namun maksud berbeda.

Haiiii kamis kita berjumpa.....

Kondisi jalanan pada hari merah di kota Jakarta seperti sedang berada di kota Zhabhabhekya. Jalanan melompong, sepi dan hampir hanya ada angkutan umum saja. Andai Jakarta seperti ini setiap hari, yaberandai-andai aja deh terus sampe andai itu bisa jadi andai, ya andailah. Akhirnya si andai menjadi taraaaaam sampai di pusat Jakarta, di jemput oleh dua orang pria, ya salah satunya makhluk tinggi besar yang sedikit aneh itu. Senyum pagi mu itu terasa hangat memeluk relung kalbuku, aaiiiisssshhhhalaaah udah lupain dulu soal senyuman. Yuhuuuuu sampai di taman, lokasi untuk mengambil beberapa take yap tetap harus menunggu, menunggu beberapa teman lagi untuk hadir membantu kegiatan itu. Waktu tetap berdetik, mengubah satu detik menjadi menit kemudian menjadi jam, jemu. Saling bergurau dan mengejek satu sama lain. Semua kegiatan di taman ini tengah usai, semua berlanjut hingga lunglai. Hari ini awan menampakan wajahnya dengan sumringah. Hingga tulang terasa tertusuk-tusuk dengan mentarinya.

Semuanya campur aduk seperti buah-buahan segar yang dijadi satu dalam sebuah mangkok dan siap disantap, yuummyyyy. Halah ini bukan persoalan makanan yang akan disantap. Persoalan hati yang makin ngawur. Akhirnya hari ini selesai lebih cepat dan bergegas menuju rumah untuk beristirahat dan mengambil adegan lagi. Disela istirahat makhluk aneh itu mengeluarkan kalimat yang membuat moodku berubah menjadi-jadi, yang intinya dia berkata setelah semua ini selesai yasudah tidak bisa berjumpa lagi. Fuuuuhhhhh... aku redam dan menetralisir moodku dengan baik. Seketika terlintas pasrah dan bete menjadi satu. Lagi-lagi muncul pertanyaan dari otakku yang makin kusut karna dirimu sudah mengobrak-abrik. ‘Kenapa harus aku yang merasakan terlebih dahulu? Kenapa tidak dirimu? Kenapa???’ Arrrrggghhh, tidak ingin merusak moment-moment terakhir dengan pikiran-pikiran yang membuatku menjemu.

“Menikmati derasnya rintik hujan untuk memuaskan hati. Persoalan nanti menjadi sakit? Nanti yang akan menjawab. Menanti.”

Beginikah akhir semuanya? Menahan dan memendam segala yang dirasa hingga membeludak. Merindu dalam segala sudut, ruang dan alam. Menikmati detik yang berubah menjadi menit melalui jam kemudian hari. Merindukan namun tidak dirindukan? Begitukah? 'Usaha, do'a, pasrah, gila adalah kunci segala kunci.' Hingga waktu berbaik hati memberi kesempatan untuk berjumpa, itu juga karna ada alasan untuk bisa berjumpa. Tiada alasan yaa tiadalah bertemu. Miris. Seperti tengah aku yang terus berusaha, dirimu tidak. Di tempat yang sama, dengan suasana yang berbeda, tentu dengan alasan yang berbeda. Rasanya enggan untuk beranjak dari kursi tersebut, terasa nyaman berada disisi tinggi besarmu, namun ketiga kawanku berulang-ulang mengajak untuk beranjak. Well akhirnya beranjak secara serentak dan berpisah dengan arah yang berbeda. Semakin kacau, semakin kacau, semakin menjadi, semakin menggilai yang aku rasa. Entah... ada alasan-alasan lain atau tidak untuk berjumpa (lagi). Nikmatin aja walaupun menyakitkan dan membuat semuanya menjadi lelah. Karna ada hasil yang lebih baik yang akan didapatkan dari bersabar, menunggu dan menerima semuanya dengan ikhlas. And now just waiting until a miracle comes to in my life.

“Waiting to be discovered...”



Ketika rindu sedang menggebu, apa yang bisa dilakukan pada gelapnya sang malam hingga fajar mendatang? Sedang senja mengabaikan rindu pada bintang. Haruskah ku pendam hingga tak ada yang hirau? Ku kubur pada kalbu dengan sedikit senyuman meskipun sendu. Maaf diriku terlalu lancang untuk merindu dirimu, Ultraman.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar