Selasa, 18 Juni 2013

Menunggu untuk ditemukan #Chapter1

Aku masih sangat ingat bagaimana pertama kali kita berjumpa. “apakah dirimu juga?" Dalam keramaian aku terdiam dan tak banyak bicara. Asing dengan zona tersebut namun dirimu terbiasa dengan zona itu. Aku perhatikan sekitar dan menyimak salah satu yang berbicara, menyibuki diri dengan ponsel smartphone. Dirimu berceloteh semaumu, melontarkan ucapan-ucapan gombalan yang menjadi senjatamu. Terlihat aneh, namun keanehan itu menjadi unik.  Aku menemukan hal baru dalam dunia yang sama dengan kesempatan yang berbeda. Waktu yang mematikan semua, aku kembali dalam persinggahanku dan dirimu pulang dengan keanehanmu.

“Seperti penumpang, menunggu untuk menaiki kereta.”

*beberapa hari berlalu* rasanya enggan berlama-lama melewati hari itu. Cepat! Cepat berlalu lah hari aku ingin segera berjumpa dengan sosok makhluk aneh namun sejenis denganku. Malam berganti malam semua terasa lamban.

Sabtu sore,

“Hari ini ribet, macet, menyebalkan, bikin emosi hhffft membuat diriku menjadi tak bergairah. Harus meluncur dari ujung Tangerang menuju pusat kota Jakarta.” Begitulah yang aku tulis pada media sosial. Setelah kepenatan itu berlalu di pusat kota kita berjumpa lagi. Berjumpa dengan dirimu makhluk aneh namun sejenis denganku. Dalam sela keramaian dan kesibukan malam kita berbincang mengenai diriku. Dalam sela istirahat kau bertanya “berapa pinmu?” Pertanyaan sederhana yang membuatku agak girang. Malam itu masih dengan keasinganku mengenai sekitar. Zona asing yang akan cepat berlalu menjadi zona nyaman.  

“Percaya diri lebih baik ketimbang minder. Well, menaruh dirilah dalam posisi yang mudah ditemukan. Menunggu”

Hingga minggu pagi kita berpisah di jalur yang berbeda. Aku menuju barat Jakarta, mengendarai keong dengan kecepatan tinggi agar lekas sampai di rumah dan dirimu menuju timur Jakarta mengenakan pesawatmu. Dengan mata yang hanya tinggal beberapa watt aku menyusuri ibu kota bersama seorang teman yang setia menemaniku dalam kegiatan ini hingga fajar.

“Akankah bisa perpisahan itu ditiadakan?”

Lagi-lagi harus menunggu, menunggu agar cepat hari berlalu dan kita berjumpa lagi dalam dunia yang sama dan kesempatan berbeda. Wahai makhluk aneh, apakah dirimu merasakan hal yang sama denganku, ingin cepat berlalu untuk bertemu? Mungkin sama namun tujuan dan kepentingan yang berbeda.

“Seperti menatap awan kebiruan berubah hingga kemerahan. Menunggu”

Tanpa disadari beberapa hari menuju hari yang ditunggu, kita tengah berbincang melalui jejaringan sosial, Blackberry Messenger. Dalam isi chat tersebut terlalu absurd, asbun aaahhh gak jelas deh percakapan kita. Banyak tanya, banyak hal yang gak penting tapi tanpa menyadari aku banyak menyimpan rindu. Apakah ini hanya sekedar perasaan rindu biasa? Entah. Aku paham betul mengenai perasaan dan logika pada diriku. Tengah jatuh cinta? Kenapa harus aku yang merasakannya lebih dulu. Kenapa tidak dia? #TanyaKenapa

“Hatiku dijambret! Dijambret makhluk berbadan tinggi besar sedikit aneh, namun unik. And i like it!”

‘Hallo June :D’ sapaan pagi itu dalam media sosialku. Harapan-harapan, ku letakkan dalam laci Tuhan setiap paginya. Berharap pertemuan kita untuk ke-tiga kalinya makin membaik. Diantar dengan keongku menuju pusat Jakarta, sesampainya disapa oleh seorang wanita berpipi lebar. Melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah berukuran cukup besar di selatan Jakarta. Tidak melihat sosok dirimu yamungkin saja telat hadir. Aku hempaskan badanku pada sofa, cukup lelah hari ini dengan Jakarta yang semakin ruwet.

“Menunggu adalah hal yang rutin dilakukan, bersifat mulia jika ikhlas.”

Kegiatan itu berlangsung sangat baik. Dengan sontak tangan jailmu menaruh diatas pundakku. Entah dirimu sadar atau tidak. Sebisa mungkin aku bersikap biasa. Seperti hampir didekap raksasa besar hingga aku sulit bernafas. Awal Juni berlalu, masuk hari kedua dalam Juni. Diantar dengan pesawatmu menuju rumah salah satu temanku dan temanmu juga. Untuk beristirahat sejenak menuju esok hari.


“Malam, sampaikan pesan tungguku pada esok yang membaik.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar