Aku masih sangat ingat bagaimana pertama kali kita
berjumpa. “apakah dirimu juga?" Dalam keramaian aku terdiam dan tak banyak
bicara. Asing dengan zona tersebut namun dirimu terbiasa dengan zona itu. Aku
perhatikan sekitar dan menyimak salah satu yang berbicara, menyibuki diri
dengan ponsel smartphone. Dirimu berceloteh semaumu, melontarkan ucapan-ucapan
gombalan yang menjadi senjatamu. Terlihat aneh, namun keanehan itu menjadi
unik. Aku menemukan hal baru dalam dunia
yang sama dengan kesempatan yang berbeda. Waktu yang mematikan semua, aku
kembali dalam persinggahanku dan dirimu pulang dengan keanehanmu.
“Seperti penumpang, menunggu untuk menaiki kereta.”
*beberapa hari berlalu* rasanya enggan berlama-lama
melewati hari itu. Cepat! Cepat berlalu lah hari aku ingin segera berjumpa
dengan sosok makhluk aneh namun sejenis denganku. Malam berganti malam semua
terasa lamban.
Sabtu sore,
“Hari ini ribet, macet, menyebalkan, bikin emosi hhffft
membuat diriku menjadi tak bergairah. Harus meluncur dari ujung Tangerang
menuju pusat kota Jakarta.” Begitulah yang aku tulis pada media sosial. Setelah
kepenatan itu berlalu di pusat kota kita berjumpa lagi. Berjumpa dengan dirimu
makhluk aneh namun sejenis denganku. Dalam sela keramaian dan kesibukan malam
kita berbincang mengenai diriku. Dalam sela istirahat kau bertanya “berapa
pinmu?” Pertanyaan sederhana yang membuatku agak girang. Malam itu masih dengan
keasinganku mengenai sekitar. Zona asing yang akan cepat berlalu menjadi zona
nyaman.
“Percaya diri lebih baik ketimbang minder. Well, menaruh dirilah dalam
posisi yang mudah ditemukan. Menunggu”
Hingga minggu pagi kita berpisah di jalur yang berbeda. Aku
menuju barat Jakarta, mengendarai keong dengan kecepatan tinggi agar lekas
sampai di rumah dan dirimu menuju timur Jakarta mengenakan pesawatmu. Dengan
mata yang hanya tinggal beberapa watt aku menyusuri ibu kota bersama seorang teman
yang setia menemaniku dalam kegiatan ini hingga fajar.
“Akankah bisa perpisahan itu ditiadakan?”
Lagi-lagi harus menunggu, menunggu agar cepat hari
berlalu dan kita berjumpa lagi dalam dunia yang sama dan kesempatan berbeda.
Wahai makhluk aneh, apakah dirimu merasakan hal yang sama denganku, ingin cepat
berlalu untuk bertemu? Mungkin sama namun tujuan dan kepentingan yang berbeda.
“Seperti menatap awan kebiruan berubah hingga kemerahan. Menunggu”
Tanpa disadari beberapa hari menuju hari yang ditunggu,
kita tengah berbincang melalui jejaringan sosial, Blackberry Messenger. Dalam isi chat tersebut terlalu absurd, asbun
aaahhh gak jelas deh percakapan kita. Banyak tanya, banyak hal yang gak penting
tapi tanpa menyadari aku banyak menyimpan rindu. Apakah ini hanya sekedar
perasaan rindu biasa? Entah. Aku paham betul mengenai perasaan dan logika pada
diriku. Tengah jatuh cinta? Kenapa harus aku yang merasakannya lebih dulu.
Kenapa tidak dia? #TanyaKenapa
“Hatiku dijambret! Dijambret makhluk berbadan tinggi besar sedikit aneh,
namun unik. And i like it!”
‘Hallo June :D’ sapaan pagi itu dalam media sosialku.
Harapan-harapan, ku letakkan dalam laci Tuhan setiap paginya. Berharap
pertemuan kita untuk ke-tiga kalinya makin membaik. Diantar dengan keongku
menuju pusat Jakarta, sesampainya disapa oleh seorang wanita berpipi lebar.
Melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah berukuran cukup besar di selatan
Jakarta. Tidak melihat sosok dirimu yamungkin saja telat hadir. Aku hempaskan
badanku pada sofa, cukup lelah hari ini dengan Jakarta yang semakin ruwet.
“Menunggu adalah hal yang rutin dilakukan, bersifat mulia jika ikhlas.”
Kegiatan itu berlangsung sangat baik. Dengan sontak
tangan jailmu menaruh diatas pundakku. Entah dirimu sadar atau tidak. Sebisa
mungkin aku bersikap biasa. Seperti hampir didekap raksasa besar hingga aku
sulit bernafas. Awal Juni berlalu, masuk hari kedua dalam Juni. Diantar dengan
pesawatmu menuju rumah salah satu temanku dan temanmu juga. Untuk beristirahat
sejenak menuju esok hari.
“Malam, sampaikan pesan tungguku pada esok yang membaik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar